Cerita yang aku paparkan berikut ini terjadi
hari Senin. Hari itu aku berangkat kerja naik bis kota (kadang-kadang
aku bawa mobil sendiri). Seperti hari Senin pada umumnya bis kota terasa
sulit. Entah karena armada bis yang berkurang, atau karena
setiap Senin orang jarang membolos dan berangkat serentak pagi-pagi.
Setelah hampir satu jam berlari ke sana ke mari, akhirnya aku
mendapatkan bis. Dengan nafas ngos-ngosan dan mata kesana kemari,
akhirnya aku mendapat tempat duduk di bangku dua yang sudah terisi
seorang wanita. Kuhempaskan pantat dan kubuang nafas pertanda kelegaanku
mendapatkan tempat duduk, setelah sebelumnya aku menganggukkan kepala
pada teman dudukku.
Karena lalu lintas macet dan aku lupa tidak
membawa bacaan, untuk mengisi waktu dari pada bengong, aku ingin
menegur wanita di sebelahku, tapi keberanianku tidak cukup dan
kesempatan belum ada, karena dia lebih banyak melihat ke luar jendela
atau sesekali menunduk. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku sambil melirik
jam tangannya. Mmacet sekali ya? katanya yang tentu ditujukan kepadaku.
Biasa Mbak, setiap Senin begini. Mau kemana? sambutku sekaligus membuka
percakapan. Oh ya. Saya dari Cikampek, habis bermalam di rumah orang tua
dan mau pulang ke Pondok Indah, jawabnya. Belum sempat aku buka mulut,
ia sudah melanjutkan pembicaraan, Kerja dimana Mas? Daerah Sudirman,
jawabku. ?Obrolan terus berlanjut sambil sesekali aku perhatikan
wajahnya.
Bibirnya tipis, pipinya halus, dan rambutnya
berombak. Sedikit ke bawah, dadanya tampak menonjol, kenyal menantang.
Aku menelan ludah. Kuperhatikan jarinya yang sedang memegang tempat
duduk di depan kami, lentik, bersih terawat dan tidak ada yang dibiarkan
tumbuh panjang. Dari obrolannya keketahui ia (sebut saja Mamah) seorang
wanita yang kawin muda dengan seorang duda beranak tiga dimana anak
pertamanya umurnya hanya dua tahun lebih muda darinya. Masa remajanya
tidak sempat pacaran.
Karena waktu masih sekolah tidak boleh
pacaran, dan setelah lulus dipaksa kawin dengan seorang duda oleh orang
tuanya. Sambil bercerita, kadang berbisik ke telingaku yang otomatis
dadanya yang keras meneyentuh lengan kiriku dan di dadaku terasa seer!
Sesekali ia memegangi lenganku sambil terus cerita tentang dirinya dan
keluarganya. Pacaran asyik ya Mas? tanyanya sambil memandangiku dan
mempererat genggaman ke lenganku. Lalu, karena genggaman dan gesekan
gunung kembar di lengan kiriku, otakku mulai berpikiran jorok. Kepingin
ya? jawabku berbisik sambil mendekatkan mulutku ke telinganya. Ia tidak
menjawab, tapi mencubit pahaku. Tanpa terasa bis sudah memasuki terminal
Blok M, berarti kantorku sudah terlewatkan. Kami turun. Aku bawakan
tasnya yang berisi pakaian menuju kafetaria untuk minum dan meneruskan
obrolan yang terputus.
Kami memesan teh botol dan nasi goreng.
Kebetulan aku belum sarapan dan lapar. Sambil menikmati nasi goreng
hangat dan telor matasapi, akhirnya kami sepakat mencari hotel. Setelah
menelepon kantor untuk minta cuti sehari, kami berangkat. Sesampai di
kamar hotel, aku langsung mengunci pintu dan menutup rapat kain horden
jendela. Kupastikan tak terlihat siapapun. Lalu kulepas sepatu dan
menghempaskan badan di kasur yang empuk. Kulihat si Mamah tak tampak, ia
di kamar mandi. Kupandangi langit-langit kamar, dadaku berdetak lebih
kencang, pikiranku melayang jauh tak karuan. Senang, takut (kalau-kalau
ada yang lihat) terus berganti. Tiba-tiba terdengar suara tanda kamar
mandi dibuka. Mamah keluar, sudah tanpa blaser dan sepatunya.
Kini tampak di hadapanku pemandangan yang menggetarkan jiwaku. Hanya
memakai baju putih tipis tanpa lengan. Tampak jelas di dalamnya BH hitam
yang tak mampu menampung isinya, sehingga dua gundukan besar dan kenyal
itu membentuk lipatan di tengahnya. Aku hanya bisa memandangi, menarik
nafas serta menelan ludah. Mungkin ia tahu kalau aku terpesona dengan
gunung gemburnya. Ia lalu mendekat ke ranjang, melatakkan kedua
tangannya ke kasur, mendekatkan mukanya ke mukaku, Mas.. katanya tanpa
melanjutkan kata-katanya, ia merebahkan badan di bantal yang sudah
kusiapkan. Aku yang sudah menahan nafsu sejak tadi, langsung mendekatkan
bibirku ke bibirnya.
Kami larut dalam lumat-lumatan bibir dan
lidah tanpa henti. Kadang berguling, sehingga posisi kami bergantian
atas-bawah. Kudekap erat dan kuelus punggungnya terasa halus dan harum.
Posisi ini kami hentikan atas inisiatifku, karena aku tidak terbiasa
ciuman lama seperti ini tanpa dilepas sekalipun. Tampak ia nafsu sekali.
Aku melepas bajuku, takut kusut atau terkena lipstik. Kini aku hanya
memakai CD. Ia tampak bengong memandangi CD-ku yang menonjol.
Lepas aja bajumu, nanti kusut, kataku. Malu ah.. katanya. Kan nggak ada
yang lihat. Cuma kita berdua, kataku sambil meraih kancing paling atas
di punggungnya. Dia menutup dada dengan kedua tangannya tapi membiarkan
aku membuka semua kancing. Kulempar bajunya ke atas meja di dekat
ranjang. Kini tinggal BH dan celana panjang yang dia kenakan. Karena
malu, akhirnya dia mendekapku erat-erat. Dadaku terasa penuh dan empuk
oleh susunya, nafsuku naik lagi satu tingkat, burung-ku tambah
mengencang.
Dalam posisi begini, aku cium dan jilati leher dan
bagian kuping yang tepat di depan bibirku. Ach.. uh.. hanya itu yang
keluar dari mulutnya. Mulai terangsang, pikirku. Setelah puas dengan
leher dan kuping kanannya, kepalanya kuangkat dan kupindahkan ke dada
kiriku. Kuulangi gerakan jilat leher dan pangkal kuping kirinya, persis
yang kulakukan tadi. Kini erangannya semakin sering dan keras. Mas..
Mas.. geli Mas, enak Mas.. Sambil membelai rambutnya yang sebahu dan
harum, kuteruskan elusanku ke bawah, ke tali BH hingga ke pantatnya yang
bahenol, naik-turun.
Selanjutnya gerilyaku pindah ke leher
depan. Kupandangi lipatan dua gunung yang menggumpal di dadanya. Sengaja
aku belum melepas BH, karena aku sangat menikmati wanita yang ber-BH
hitam, apalagi susunya besar dan keras seperti ini. Jilatanku kini
sampai di lipatan susu itu dan lidahku menguas-nguas di situ sambil
sesekali aku gigit lembut. Kudengar ia terus melenguh keenakan. Kini
tanganku meraih tali BH, saatnya kulepas, ia mengeluh, Mas.. jangan, aku
malu, soalnya susuku kegedean, sambil kedua tangannya menahan BH yang
talinya sudah kelepas.
Coba aku lihat sayang.. Kataku
memindahkan kedua tangannya sehingga BH jatuh, dan mataku terpana
melihat susu yang kencang dan besar. Mah.. susumu bagus sekali, aku
sukaa banget, pujiku sambil mengelus susu besar menantang itu. Putingnya
hitam-kemerahan, sudah keras. Kini aku bisa memainkan gunung kembar
sesukaku. Kujilat, kupilin putingnya, kugigit, lalu kugesek-gesek dengan
kumisku, Mamah kelojotan, merem melek, Uh.. uh.. ahh.. Setelah puas di
daerah dada, kini tanganku kuturunkan di daerah selangkangan, sementara
mulut masih agresif di sana.
Kuusap perlahan dari dengkul lalu
naik. Kuulangani beberapa kali, Mamah terus mengaduh sambil membuka
tutup pahanya. Kadang menjepit tangan nakalku. Semua ini kulakukan tahap
demi tahap dengan perlahan. Pertimbanganku, aku akan kasih servis yang
tidak terburu-buru, benar-benar kunikmati dengan tujuan agar Mamah punya
kesan berbeda dengan yang pernah dialaminya. Kuplorotkan celananya.
Mamah sudah telanjang bulat, kedua pahanya dirapatkan. Ekspresi spontan
karena malu. Kupikir dia sama saja denganku, pengalaman pertama dengan
orang lain. Aku semakin bernafsu. Berarti di hadapanku bukan perempuan
nakal apalagi profesional. Kini jari tengahku mulai mengelus perlahan,
turun-naik di bibir vaginanya. Perlahan dan mengambang. Kurasakan di
sana sudah mulai basah meski belum becek sekali.
Ketika jari
tengahku mulai masuk, Mamah mengaduh, Mas.. Mas.. geli.. enak.. terus..!
Kuraih tangan Mamah ke arah selangkanganku (ini kulakukan karena dia
agak pasif. Mungkin terbiasa dengan suami hanya melakukan apa yang
diperintahkan saja). Mas.. keras amat.. Gede amat? katanya dengan nada
manja setelah meraba burungku. Mas.. Mamah udah nggak tahan nikh,
masukin ya..? pintanya setengah memaksa, karena kini batangku sudah
dalam genggamannya dan dia menariknya ke arah vagina. Aku bangkit
berdiri dengan dengkul di kasur, sementara Mamah sudah dalam posisi siap
tembak, terlentang dan mengangkang. Kupandangi susunya keras tegak
menantang.
Ketika kurapatkan senjataku ke vaginanya, reflek
tangan kirinya menangkap dan kedua kakinya diangkat. Mas.. pelan-pelan
ya.. Sambil memejamkan mata, dibimbingnya burungku masuk ke sarang
kenikmatan yang baru saja dikenal. Meski sudah basah, tidak juga
langsung bisa amblas masuk. Terasa sempit. Perlahan kumasukkan ujungnya,
lalu kutarik lagi. Ini kuulangi hingga empat kali baru bisa masuk
ujungnya. Sret.. sret.. Mamah mengaduh, Uh.. pelan Mas.. sakit.. Kutarik
mundur sedikit lagi, kumasukkan lebih dalam, akhirnya.. Bles.. bles..
barangku masuk semua.
Mamah langsung mendekapku erat-erat
sambil berbisik, Mas.. enak, Mas enak.. enak sekali.. kamu sekarang
suamiku.. Begitu berulang-ulang sambil menggoyangkan pinggul, tanpa
kumengerti apa maksud kata suami. Mamah tiba-tiba badannya mengejang,
kulihat matanya putih, Aduuh.. Mas.. aku.. enak.. keluaar.. tangannya
mencengkeram rambutku. Aku hentikan sementara tarik-tusukku dan
kurasakan pijatan otot vaginanya mengurut ujung burungku, sementara
kuperhatikan Mamah merasakan hal yang sama, bahkan tampak seperti orang
menggigil. Setelah nafasnya tampak tenang, kucabut burungku dari
vaginanya, kuambil celana dalamnya yang ada di sisi ranjang, kulap
burungku, juga bibir vaginanya. Lantas kutancapkan lagi.
Kembali kuulangi kenikmatan tusuk-tarik, kadang aku agak meninggikan
posisiku sehingga burungku menggesek-gesek dinding atas vaginanya.
Gesekan seperti ini membuat sensasi tersendiri buat Mamah, mungkin
senggamanya selama ini tak menyentuh bagian ini. Setiap kali gerakan ini
kulakukan, dia langsung teriak, Enak.. terus, enak terus.. terus..
begitu sambil tangannya mencengkeram bantal dan memejamkan mata. Aduuhm
Mas.. Mamah keluar lagi niikh.. teriaknya yang kusambut dengan
mempercepat kocokanku. Tampak dia sangat puas dan aku merasa perkasa.
Memang begitu adanya. Karena kalau di rumah, dengan istri aku tidak
seperkasa ini, padahal aku tidak pakai obat atau jamu kuat. Kurasakan
ada sesuatu yang luar biasa. Kulirik jam tanganku, hampir satu jam aku
lakukan adegan ranjang ini. Akhirnya aku putuskan untuk terus
mempercepat kocokanku agar ronde satu ini segera berakhir. Tekan, tarik,
posisi pantatku kadang naik kadang turun dengan tujuan agar semua
dinding vaginanya tersentung barangku yang masih keras. Kepala penisku
terasa senut-senut, Mah.. aku mau keluar nikh.. kataku. He.. eeh..
terus.. Mas, aduuh.. gila.. Mamah juga.. Mas.. terus.. terus.. Crot..
crot.. maniku menyemprot beberapa kali, terasa penuh vaginanya dengan
maniku dan cairannya.
Kami akhiri ronde pertama ini dengan
klimaks bareng dan kenikmatan yang belum pernah kurasakan. Satu untukku
dan tiga untuk Mamah. Setelah bersih-bersih badan, istirahat sebentar,
minum kopi, dan makan makanan ringan sambil ngobrol tentang keluarganya
lebih jauh. Mamah semakin manja dan tampak lebih rileks. Merebahkan
kepalanya di pundakku, dan tentu saja gunung kembarnya menyentuh badanku
dan tangannya mengusap-usap pahaku akhirnya burungku bangun lagi.
Kesempatan ini dipergunakan dengan Mamah. Dia menurunkan kepalanya,
dari dadaku, perut, dan akhirnya burungku yang sudah tegang dijilatinya
dengan rakus. Enak Mas.. asin gimana gitu. Aku baru sekali ini ngrasain
begini, katanya terus terang. Tampak jelas ia sangat bernafsu, karena
nafasnya sudah tidak beraturan. Ah.. lenguhnya sambil melepas isapannya.
Lalu menegakkan badan, berdiri dengan dengkul sebagai tumpuan.
Tiba-tiba kepalaku yang sedang menyandar di sisi ranjang direbahkan
hingga melitang, lalu Mamah mengangkangiku. Posisi menjadi dia persis di
atas badanku.
Aku terlentang dan dia jongkok di atas perutku.
Burungku tegak berdiri tepat di bawah selangkangannya. Dengan memejamkan
mata, Mas.. Mamah gak tahaan.. Digenggamnya burungku dengan tangan
kirinya, lalu dia menurunkan pantatnya. Kini ujung kemaluanku sudah
menyentuh bibir vaginanya. Perlahan dan akhirnya masuk. Dengan posisi
ini kurasakan, benar-benar kurasakan kalau barang Mamah masih sempit.
Vagina terasa penuh dan terasa gesekan dindingnya. Mungkin karena lendir
vaginanya tidak terlalu banyak, aku makin menikmati ronde kedua ini.
Aduuh.. Mas, enak sekali Mas.
Aku nggak pernah sepuas ini.
Aduuh.. kita suami istri kan? lalu.. Aduuh.. Mamah enak Mas.. mau keluar
nikh.. aduuh.. katanya sambil meraih tanganku diarahkan ke susunya.
Kuelus, lalu kuremas dan kuremas lagi semakin cepat mengikuti, gerakan
naik turun pantatnya yang semakin cepat pula menuju orgasme. Akhirnya
Mamah menjerit lagi pertanda klimaks telah dicapai. Dengan posisi aku di
bawah, aku lebih santai, jadi tidak terpancing untuk cepat klimaks.
Sedangkan Mamah sebaliknya, dia leluasa menggerakkan pantat sesuai
keinginannya.
Adegan aku di bawah ini berlangsung kurang lebih
30 menit. Dan dalam waktu itu Mamah sempat klimaks dua kali. Sebagai
penutup, setelah klimaks dua kali dan tampak kelelahan dengan keringat
sekujur tubuhnya, lalu aku rebahkan dia dengan mencopot burungku.
Setelah kami masing-masing melap barang, kumasukkan senjataku ke liang
kenikmatannya. Posisinya aku berdiri di samping ranjang. Pantatnya
persis di bibir ranjang dan kedua kakinya di pundakku. Aku sudah siap
memulai acara penutupan ronde kedua. Kumulai dengan memasukkan burungku
secara perlahan. Uuh.. hanya itu suara yang kudengar. Kumaju-mundurkan,
cabut-tekan, burungku.
Makin lama makin cepat, lalu perlahan
lagi sambil aku ambil nafas, lalu cepat lagi. Begitu naik-turun, diikuti
suara Mamah, Hgh.. hgh.. seirama dengan pompaanku. ?Setiap kali aku
tekan mulutnya berbunyi, Uhgh.. Lama-lama kepala batanganku terasa
berdenyut. Mah.. aku mau keluar nikh.. Yah.. pompa lagi.. cepat lagi..
Mamah juga Mas.. Kita bareng ya.. ya.. terus.. Dan akhirnya jeritan..
Aaauh.. menandai klimaksnya, dan kubalas dengan genjotan penutup yang
lebih kuat merapat di bibir vagina, Crot.. crott. Aku rebah di atas
badannya. Adegan ronde ketiga ini kuulangi sekali lagi.
Persis
seperti ronde kedua tadi. ?Pembaca, ini adalah pengalaman yang luar
biasa buat saya. Luar biasa karena sebelumnya aku tak pernah merasakan
sensasi se-luar biasa dan senikmat ini. Setelah itu kami tidak pernah
bertemu lagi, meski aku tahu alamatnya. Kejadian ini membuktikan,
seperti yang pernah kubaca, bahwa selingkuh yang paling nikmat dan akan
membawa kesan mendalam adalah yang dilakukan sekali saja dengan orang
yang sama. Jangan ulangi lagi (dengan orang yang sama), sensasinya atau
getarannya akan berkurang. Aku kadang merindukan saat-saat seperti ini.
Selingkuh yang aman seperti ini.
Minggu, 16 Maret 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar